
Apa persamaan BuzzFeed, Reddit, 9Gag, Upworthy, dan Huffington Post? Ya, semuanya mencoba tampil menyajikan konten yang adiktif bagi pembaca dengan headline yang mengundang klik. Di sisi lain, semua situs tersebut juga punya satu elemen yang mungkin kurang familier bagi orang yang tidak begitu mengerti ranah media, yakni: konten yang dibuat oleh pengguna atau user generated content (atau lebih dikenal sebagai UGC).
Di luar sana ada banyak bentuk model UGC. Situs seperti 9gag memungkinkan pengguna membuat foto-foto lucu dan video klip singkat (dalam bentuk meme dan gif) untuk membuat Anda tertawa (asalkan Anda tidak melewati batas). Tech in Asia kini juga mempunyai elemen UGC. Bedanya, kami mencoba mengajak pembaca yang mempunyai minat di ranah teknologi secara umum dan juga startup untuk berdiskusi, menyampaikan ide dan pendapat mereka dalam bentuk artikel, berbagi informasi, atau berkomentar.
Nama-nama besar yang saya sebutkan di awal berasal dari Amerika Serikat. Tapi fenomena yang sama juga terjadi di negara-negara berkembang di Asia Tenggara. Beberapa orang penasaran apa peran UGC bagi negara seperti Indonesia, dimana banyak populasinya yang belum pernah mengakses internet.
Adopsi yang semakin cepat
Bina Nusantara University (Binus) baru-baru ini merilis sebuah studi mengenai pentingnya UGC yang terkait dengan brand di masyarakat yang pengguna internetnya berjumlah lebih dari 32 juta orang (pengguna internet adalah orang yang menggunakan internet lebih dari tiga jam per hari). Menurut laporan tersebut, sekitar 95 persen pengguna internet di Indonesia aktif di media sosial, dan negara ini memiliki basis pengguna Facebook terbesar di dunia.
Statistik terbaru mengatakan bahwa penetrasi internet di Indonesia sekarang mencapai hampir 30 persen, naik 10 persen dari tahun lalu. Tidak seperti di negara-negara yang masyarakatnya mengalami masa transisi dari koran cetak ke media online kemudian ke UGC, seiring semakin pesatnya peningkatan penetrasi internet di Indonesia, masyarakat setempat melompat dari media cetak ke ranah UGC di perangkat mobile mereka.
Michael Rendy, Founder dan CEO situs UGC asal Surabaya, Keepo, yakin bahwa transisi ini mengejutkan, tapi secara garis besar tetap hal yang bagus untuk konsumen media di Indonesia. “Pengguna internet di tanah air itu sangat kritis. Mereka sangat reaktif terhadap isu apapun yang mengusik emosi mereka — baik itu kagum, marah, dan simpati,” katanya.
Tidak bisa diabaikan
Studi terbaru dari Bain and Company mewakili World Economic Forum mengatakan bahwa meskipun infrastruktur komunikasi baru mulai maju, media cetak tradisional masih menghasilkan 45 persen dari penghasilan pasar media Asia Tenggara yang berjumlah $18 miliar (sekitar Rp242 triliun). Tapi, Kompas adalah salah satu contoh yang menarik, dan Bain juga menyoroti platform jurnalisme berbasis komunitas mereka, Kompasiana.
Di Kompasiana, semua anggota bisa membagikan informasi, pendapat, dan ide di sebuah forum yang semakin lama berubah menjadi sesuatu yang mirip media sosial. Sejak peluncuran situs barunya di tahun 2008 lalu, Bain melaporkan bahwa pageview Kompas meningkat sampai pada tingkat 73 persen per tahunnya.
Media cetak tradisional lainnya seperti The Jakarta Globe dan Forbes Indonesia juga memiliki situs, tapi tidak menggunakan model UGC (meskipun Forbes Internasional sudah mengintegrasikan fitur UGC). The Jakarta Post tampaknya sedang menguji coba bagian situs yang memungkinkan pengguna untuk memasukkan link berisi cerita tentang petualangan di Indonesia yang pernah mereka tulis.
Di sisi lain, KapanLagi Network (KLN) dianggap sebagai media yang paling berpikir ke depan di Indonesia. Perusahaan ini juga merupakan perusahaan media online terbesar di negara ini, dan MediaCorp dari Singapura bahkan mengakuisisi mereka. Tapi, di bulan Februari lalu, CEO KLN Steve Christian mengatakan bahwa perusahaan seperti miliknya harusnya yang paling takut dengan persaingan dari media baru. Ia mengaku takut pada startup media yang memulai dari nol. Di Indonesia, startup ini termasuk yang menggunakan model UGC seperti 1cak dan Keepo.
Rendy menjelaskan bahwa UGC bisa menjadi adiktif karena memiliki komponen sosial dan membuat user experience yang lekat pada pengguna. Ia menambahkan, “Model ini juga ‘hemat’, karena UGC tidak mengharuskan Anda merekrut banyak penulis.”
Kreativitas sebagai komoditas
Jika makin banyak UGC yang bermunculan di Indonesia, ada kemungkinan periklanan tradisional akan menjadi semakin tidak menarik bagi brand lokal. Tapi pertanyaannya: Mengapa brand masih terus membayar untuk iklan cetak dan banner di saat mereka bisa membuat konten yang bermanfaat bagi pembaca sambil menyebutkan brand mereka dalam konteks yang relevan? Jika sebuah konten UGC dibuat dengan benar, secara teori, sebuah brand harusnya bisa membuat sebuah perusahaan lebih terkenal secara gratis, selama bahan yang diberikan ke pembaca juga bagus.
Bagaimanapun, ini tidaklah semudah kedengarannya. Perusahaan yang tidak punya waktu dan sumber daya untuk membuat konten brand yang kreatif pada akhirnya akan tetap membayar untuk dibuatkan konten. Patrick Searle, Co-Founder GetCRAFT, yakin bahwa ranah pemasaran konten di Indonesia masih belum berkembang, tapi harusnya siap meledak dalam waktu dekat. “Ini merupakan sumber pendapatan yang diandalkan oleh BuzzFeed, Quartz, Vice, dan Vox untuk terus berkembang.”
No comments:
Post a Comment